About Me_True Story

L.U.F.T.I.
Itulah namaku. Bukan LUTFI seperti kebanyakan nama pada umumnya. Yang jelas namaku ngga pasaran khan?? Tapi kalo diteliti, artinya sungguh luar biasa dan perlu perjuangan mencari arti dari nama itu. Bayangkan, sejak aku kelas 5 SD, aku sudah membayangkan arti dari nama itu. Tanya sana-sini, tanya guru agama, tanya ibu (karena ayahku sudah meninggal), tanya om-tante, tanya tetangga, tanya satpam di sekolah, tanya penjaga musholla, wahh, pokoknya sudah tanya banyak orang. Dan jawabannya : cuma gelengan kepala dan bahu yang mengangkat alias GA TAU LA YAUWW. Aku menyerah?? TIDAK, sampai suatu saat di bulan Ramadhan tahun 2006, seorang ustadz menguraikan makna namaku. Ternyata artinya sungguh di luar dugaanku. Selama penantian 10 tahun lebih, akhirnya aku tahu arti dari nama itu. MAu tau…??? simak salah satu tulisanku ini…

Ada Doa di Balik Nama yang Tak Lazim Itu…

Suatu siang di meja redaksi sebuah majalah yang sudah tak asing lagi bagi kalangan aktifis dakwah, SAKSI, aku duduk di depan sebuah komputer. Saat sedang sibuk mencari bahan untuk liputan, sebagai bagian tugas Kuliah Kerja Lapangan (KKL)-ku di majalah beraliran politik islam itu, tiba-tiba tutorku, Misroji memperkenalkanku dengan seorang staf bagian keuangan yang aku lupa namanya sampai saat ini.

“Saya Lufti,” ucapku memperkenalkan diri.

“Lutfi?…ooh Lufti, maaf saya kira Lutfi,” Ujarnya mengoreksi pertanyaannya sendiri.Namun aku seperti biasa, dengan sabar membetulkan lafal namaku yang tak lazim bagi kebanyakan orang. Memang, kuakui, nama Lufti, dengan huruf  ‘F’ lebih dulu dari pada ‘T’ membuat orang sulit menghafal pada mulanya. Namun lama-kelamaan biasa juga teman-teman terdekatku menyebut namaku dengan benar, LUFTI, bukan Lutfi. Tetapi setidaknya  aku yakin bahwa Alloh takkan pernah salah ketika memanggil namaku kelak : Lufti Avianto bin Supriadinata. 

Peristiwa salah eja namaku bukanlah yang pertama kali bagiku. Sudah ratusan bahkan ribuan orang yang bertemu untuk pertama kali denganku, pasti keseleo bila melafal nama aneh itu. Mengapa aneh? Jelas saja, hampir setiap orang biasanya protes, mengapa tidak LUTFI saja namamu? Atau dengan bahasa lain yang terkadang membuatku sedikit tersinggung : Kalau Lutfi dalam bahasa arab berarti lembut, lha kalo LUFTI apa dong artinya ??? Kasar??? (kebalikan lembut???). 

Begitulah gurauan sebagian orang bila mengeja namaku. Meski sempat tersinggung, aku berusaha untuk bersabar dengan hal-hal seperti itu. Pernah aku ‘menggugat’ kepada orangtuaku yang memberikan nama itu. “Kenapa tidak LUTFI saja namaku???,” keluhku saat itu. Aku juga sering mengelus dada atas komentar-komentar ‘kasar’ itu.

Seandainya saja aku dilahirkan ke dunia ini dengan kebebasan hak dalam memilih nama sendiri, tentu aku takkan pusing memilih nama indah sebagai label selama aku hidup di bumi ini.  Kalau boleh memilih, nama yang paling menjadi primadona adalah Muhammad, sebagai tauladan sepanjang zaman dan sejarah manusia. Atau Imran, yang Alloh berikan ‘tempat spesial’ dalam Al-Quran sebagai nama sebuah surat ketiga (Ali-Imran). Atau yang lainnya seperti Abdullah dan Abdurrahman, yang dalam sebuah hadits disebutkan sebagai salah satu nama yang Alloh sukai. Itu pun kalau boleh aku memilih. Tapi nyatanya?, orangtua kita-lah yang memilihkan nama bagi buah hatinya ketika brojol ke dunia ini, seperti aku… 

Ya, nama adalah doa orang tua bagi buah hatinya kelak. Walaupun Shakespeare yang terkenal itu mengatakan, Apalah arti sebuah nama… Tetapi bagi seorang muslim sepertihalnya aku, nama adalah doa. Nama adalah harapan. Nama adalah cita-cita yang dilekatkan orangtua kepada si anak agar ia hidup sesuai dengan harapan dan doa orang tuanya itu. Lalu, apa harapan orangtuaku terhadap nama aneh yang dilekatkannya padaku…? Apakah mereka memberikan nama yang tanpa arti? Tanpa makna? Sehingga aku hidup dalam sebuah perjalanan yang tanpa arah dan cita-cita yang ditelurkan kedua orangtua tercintaku itu.

Pernah pula aku menanyakan arti LUFTI itu sendiri kepada ibuku, sebab ayahku sendiri telah meninggal sewaktu aku duduk di kelas dua sekolah dasar. Namun, bukan jawaban konkrit yang kudapat, tapi jawabannya hanyalah kernyitan di dahi atau pundak yang terangkat tidak tahu. Hingga beberapa waktu, aku tak tahu apa makna di balik nama aneh itu. Ya, nama aneh itu aku tak tahu apa doa yang hendak dipanjatkan kedua orang tuaku dulu sewaktu Agustus 1984 silam aku dilahirkan. Namun, gugatanku atas nama yang kini melekat bagiku, tidaklah berkepanjangan.

Suatu malam di bulan Ramadhan (1427 H/ 2006), aku menemukan arti namaku yang selama 10 tahun lebih aku cari. Sebuah arti dari nama yang selama ini dinilai tak berarti sama sekali. Atau, kalaupun toh ada, artinya pasti bertolak belakang dengan yang lazimnya. LUTFI (lembut) berlawananan dengan LUFTI (kasar-ini menurut lelucon orang yang mengira-ngira) 

Di sebuah kantor Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU dimana aku bekerja, aku berkesempatan berdiskusi dengan seorang ustadz yang saat itu berkesempatan berkunjung ke Jakarta karena beliau mengambil studi S2 di Pakistan. Masturi Suhadi namanya. Setelah panjang lebar bercengkerama, ia menanyakan namaku.“Saya LUFTI, ustadz,” Seperti biasa aku memperkenalkan diri. Ana tahunya nama antum LUTFI,” ujarnya singkat.Aku memaklumi hal itu. Sakit hatipun tidak, karena sudah biasa aku mengalami hal itu. Walau pernah bersama dengannya dalam sebuah kunjungan ke tempat kebakaran di bilangan Jakarta Utara, ia masih lupa dengan namaku.

Padahal waktu itu, aku dengan mantap memperkenalkan sebagai LUFTI, bukan LUTFI. Tentunya dengan huruf “F” lebih dahulu ketimbang “T”. Segera aku berseloroh, “LUFTI nggak ada artinya ya? Banyak yang mengira LUTFI,” ucapku datar. Tanpa kuduga, ia menjelaskan asal kata namaku beserta artinya. Subhanallah… aku takjub mengetahui paparan ustadz yang saat itu duduk di sampingku. Beberapa saat kemudian, aku pamit darinya yang saat itu menunjukkan pukul 22.00 WIB.

Kupacu sepeda motorku dengan perasaan senang, bahagia dan pokoknya luar biasa. Aaah, akhirnya namaku memiliki makna sendiri, pikirku saat itu. Setiba aku di rumah, kuingat kembali arti dari namaku itu. Sial, aku merasa lupa dan menyesal tak mencatatnya untuk dijadikan hujjah suatu saat jika ada yang menanyai arti namaku itu. Segera kukirim SMS untuk meminta penjelasan singkat ustadz itu, setelah kudapatkan dua nomor beliau dari salah seorang rekan kerja di PKPU. Tak menunggu hitungan lima menit, ponsel hitam esia-ku berdenyut, tuut..tutt. tanda pesan masuk. Ku baca pesan itu lekat-lekat dari sebuah layar kuning yang meneranginya : 

LUFTI, akar kata bahasa arabnya LAFATA, artinya menengok atau memandang ke samping. LUFTI bisa diartikan sebagai PANDANGANKU 

Aku membayangkan arti dari nama aneh itu. LUFTI = PANDANGANKU. Kalau aku menafsirkannya, PANDANGANKU berarti seseorang yang memiliki visi ke depan, seseorang yang teguh pendirian, melihat sesuatu beberapa langkah ke depan (two step ahead), dan cerdas, karena ia tidak mudah terpengaruh dan ikut-ikutan (taqlid) dalam hal mengutarakan pendapat atau aspirasi. Setidaknya itu doa dan harapanku atas nama abstrak-ku yang kini mulai terlihat maknanya. 

Alhamdulillah, ucapku senang kala itu. Beruntung sekali aku mengenal beliau. Tidak hanya aku merasa beruntung telah mampu memecahkan teka-teki atau lebih tepatnya misteri atas namaku yang tak lazim itu. Namun dari penjelasan, nasihat dan diskusi malam itu aku merasa berharga atas taushiyah-nya. Tetapi setidaknya, aku takkan tertunduk malu atau tersinggung bila suatu saat aku berkesempatan memperkenalkan namaku. “Aku LUFTI, bukan LUTFI, tentunya Anda jangan lupa bahwa namaku dengan huruf ‘F’ lebih dulu ketimbang ‘T’, Jadi L-U-F-T-I.. ingat ya… ? 

Jazakumullah khairon katsiiro atas pencerahan dan nasihatnya….tadz, Untuk mengingat taushiyah Ustadz Masturi Suhadi yang kini di PakistanSalam hangat untuk keluarga dari Lufti Sang Visioner di Indonesia Hikmah :

Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dan keputusan terhadap sesuatu yang belum kita pahami segala sesuatunya. Bisa jadi, hal yang kita kira buruk ternyata menyimpan segala kebaikan. Begitu pula sebaliknya. Sehingga kita terjebak dalam pilihan-pilihan yang keliru dan menyesatkan akibat kekurangan ilmu dan kefahaman atas suatu perkara.

19 Comments Add your own

  • 1. mirza  |  September 20, 2007 at 4:14 AM

    oooo….gitu ya…..

    Balas
  • 2. elly_nf  |  November 22, 2007 at 3:42 AM

    assalamu’alaikum
    antum kenal dengan ustadz masturi???
    ana keponakan beliau
    masih bersama beliau di pakistan???
    salam untuk ustadz Masturi

    Balas
  • 3. luthfi  |  Desember 2, 2007 at 11:09 AM

    ternyata nama itu memang bermakna bayangkan bila kita tdk mempunyai nama

    Balas
  • 4. setiaji  |  Desember 14, 2007 at 2:04 AM

    Assalamualaikum Mas Lufti, kenalkan saya Setiaji. Bener nggak, ini Lufti temannya Herlambang ? Kalo bener, salam kenal ya, setelah ketemu di walimah saya dulu, sekarang bertemu di alam maya :D

    Wassalam..

    Balas
  • 5. manglufti  |  Desember 14, 2007 at 2:58 AM

    wa alaikum salam
    bener ana temennya herlambang
    mas ini setiaji yg mana? se’ yo, biar saya kunjungi blognya…
    salam kenal juga

    Balas
  • 6. setiaji  |  Desember 15, 2007 at 4:35 AM

    Hehehe kalau sudah jadi seleb PKPU jadi gampang lupa ya :D saya yang jadi suami kakaknya Herlambang…inget gak ? :D

    Balas
  • 7. manglufti  |  Desember 16, 2007 at 10:19 AM

    oooooooo masya allah….
    sudah lama saya nggak main ke rumah herlambang
    jadi lupa..
    terakhir datang saat walimah itu ya..?
    waduhhhhhh maaf ya,,….

    Balas
  • 8. avis  |  Januari 2, 2008 at 3:17 PM

    assalamualaikum mas

    hehehe …maaf juga ya./;…waktu pertama baca huruf F itu lagi2 mengelabui jadi efek mata pu nngebacanya LUTFI–seperti kebanyakan (kebetulan tmn2ku yg punya nama ini jg banyak)

    hehehe gk taunya LUFTI ya mas…..smoga dengan arti “pandangan” bisa memberi semangat kehidupan……

    jadi inget–dulu aku baru tau tulisan nama lengkapku yg bener pas baca STTB SD–Hafiidhaturrahma–setelah sekian lama di SD menulis nama sndiri Hafis Datur. hehehe….beda dari makna……..tp maklum……..

    Well….smua nama pasti mengandung Doa.
    Wassalam mas

    Balas
  • 9. manglufti  |  Januari 3, 2008 at 10:04 AM

    salam kenal juga :-D
    tapi tetep jaga “pandangan” ya…

    Balas
  • 10. more (nama on line)  |  Januari 13, 2008 at 1:56 PM

    asalamu’alaikum

    duhai sahabatku, tlah lama dikau tak menghubungiku. sudah lupakah dikau? atau krn sdh jd seleb (selep apa selep??) jd lupa?? salam buat keponakan dikau yang lucu_lucu ya. salam dari bunda. katanya “kapan kerumah????

    Balas
  • 11. Miftahudin bin Halim Badrudin  |  Januari 14, 2008 at 7:07 AM

    Nama saya juga f nya di depan, tapi mungkin orang gak akan salah nyebut karena pasarannya emang begitu. Tidak seperti nama mang lutfi eh mang lufti. Pertama buka pun ana liatnya lutfi, maaf ya. Pengen ikut gaul aja sekalian tanya mang lufti teh anggota IZZIS? Salam buat akh Novi Hardian dari temennya di SMA. Selamat berdakwah buat ikhwah di IZZIS.

    Balas
  • 12. manglufti  |  Januari 14, 2008 at 7:22 AM

    Ya iyalah, masa T-nya duluan jadi “Mitfahudin” donk hehe :D Saya ga pernah ngaku personel IZIZS, cuma kenal aja, dan kebetulan Yayaysan SALAM (saya kadiv humas-nya) dan personel IZZIS Muji R bikin kerjasama untuk nyari bakat anak-anak SMA untuk buat tim nasyid. Tapi, saya pernah dilatih sama kang Muji waktu SMA dulu, sayang ga bertahan lama en bubaran. Tapi jangan kecewa ya.. kalo saya bukan personel IZZIS. Sumpah ga bo’ong, saya cuman kenal mereka aja.. :D
    salam kenal kang miftah..

    Balas
  • 13. Miftahudin bin Halim Badrudin  |  Januari 14, 2008 at 8:24 AM

    Nama saya juga f nya di depan, tapi mungkin orang gak akan salah nyebut karena pasarannya emang begitu. Tidak seperti nama mang lutfi eh mang lufti. Pertama buka pun ana liatnya lutfi, maaf ya. Ikut-ikutan pake “bin” biar ingat selalu sama bapak tercinta yang sudah meninggal juga. Pengen ikut gaul aja sekalian tanya mang lufti teh anggota IZZIS? Salam buat akh Novi Hardian dari temennya di SMA. Selamat berdakwah buat ikhwah di IZZIS.

    Balas
  • 14. farihik  |  Januari 31, 2008 at 12:00 PM

    Akhi…
    Wah hebat antum lika-liku itu mesti dijalani,
    namun akh,
    Alhamdulillah
    Pertolongan Allah sangat dekat
    sangat sangat dekat
    10 tahun itu dekat
    Selamat antum telah menemukan makna itu akhi
    fiikum barakah
    fiikum barakah
    fiikum barakah

    Balas
    • 15. manglufti  |  Desember 22, 2008 at 7:20 AM

      amiiiinnn…
      perlu perjuangan panjang…tapi TETEP SEMANGAT! :D

      Balas
  • 16. manglufti  |  Januari 31, 2008 at 12:17 PM

    amiiin ya Allah….
    terima kasih doanya

    Balas
  • 17. bibomedia  |  Maret 4, 2008 at 9:56 PM

    :)

    Balas
    • 18. manglufti  |  Desember 22, 2008 at 7:23 AM

      saya juga senyum ah….. :D

      Balas
  • 19. kitt  |  Juli 3, 2009 at 12:03 PM

    aslmkum… wah bgitu… af1 ana kira awalnyua td lutfi jg….
    lufti.. bguss pak,….

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed