#10: Penulis dan Penebang Kayu

Pernah dengar cerita tentang si penebang kayu? Kalau anda belum pernah dengar, saya ceritakan sedikit saja.

Begini, sada seorang penebang kayu yang bekerja kepada seorang majikan. Dia ditanya bisa menebang berapa pohon dalam sehari. Si penebang kayu menjawab, “25 pohon sehari,” nadanya mantap. Jumlah ini sama dengan rekan si penebang pohon yang lain.

Benar saja. Di pekan pertama dia bekerja, dia sanggup menebang 25 pohon, begitu juga dengan penebang yang kedua. Di pekan kedua, penebang pertama turun menjadi 20 pohon saja, sementara penebang yang kedua jumlahnya malah naik menjadi 27 pohon yang berhasil ditebang.

Begitu seterusnya, pekan demi pekan, penebang yang pertama terus mengalami penurunan 5 pohon setiap pekannya, sementara rekannya dengan konsisten naik 1-2 pohon setiap pekan.

Akhirnya sang majikan menegur penebang yang pertama. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu kian tidak produktif? Apa kamu malas?”

“Saya sendiri tidak tahu tuan. Setiap hari saya bekerja keras. Pekan pertama saya mampu mencapai target. Tapi pekan berikutnya justru menurun,” si penebang pertama tak tahu penyebabnya.

Kemudian sang majikan memanggil penebang yang kedua. Bertanya, mengapa dia bisa meningkatkan produktivitasnya.

Dengan rendah hati, penebang pertama menjawab, “saya selalu mengasah kapak sya setiap hari, tuan. Bila sedang istirahat, saya mengasah sambil makan siang. Bila sudah pulang ke rumah, saya sempatkan untuk mengasah kapak itu, meski sebentar.”

Sang majikan dan penebang yang kedua tercekat melihat keuletan dan semangat penebang pertama. Kini penebang kedua menyadari penyebab produktivitasnya menurun. Dia hampir tak pernah mengasah kapaknya.

Nah, saya kira antara profesi penulis dan penebang kayu punya banyak kesaamaan. Kalau si penebang punya kapak, maka penulis punya pikiran dan keterampilan yang harus terus diasah. Bagaimana caranya mengasah?

Jangan terrlalu mengandalkan bakat menulis kita. Percuma kalau tidak diasah. Mengasah diri untuk menjadi penulis hebat, bisa dilakukan dengan banyak membaca dan banyak menulis. Karena penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Tak hanya membaca buku, majalah, koran, menonton teve, menyimak radio, spanduk, pamflet tetapi juga membaca karakter orang, atau gejala alam yang terjadi di sekitar kita.

Jadi pertajam ‘kapak’ kita sebagai penulis agar produktivitas semakin meningkat. Jangan lupakan mengasah kapak, meski sebentar, tapi lakukanlah dengan rutin.

About manglufti

L.U.F.T.I. Itulah namaku. Bukan LUTFI seperti kebanyakan nama pada umumnya. Yang jelas namaku ngga pasaran khan?? Tapi kalo diteliti, artinya sungguh luar biasa dan perlu perjuangan mencari arti dari nama itu. Bayangkan, sejak aku kelas 5 SD, aku sudah membayangkan arti dari nama itu. Tanya sana-sini, tanya guru agama, tanya ibu (karena ayahku sudah meninggal), tanya om-tante, tanya tetangga, tanya satpam di sekolah, tanya penjaga musholla, wahh, pokoknya sudah tanya banyak orang. Dan jawabannya : cuma gelengan kepala dan bahu yang mengangkat alias GA TAU LA YAUWW. Aku menyerah?? TIDAK, sampai suatu saat di bulan Ramadhan tahun 2006, seorang ustadz menguraikan makna namaku. Ternyata artinya sungguh di luar dugaanku. Selama penantian 10 tahun lebih, akhirnya aku tahu arti dari nama itu. MAu tau...??? simak salah satu tulisanku di blog ini...

Posted on 13 November 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.