Anggap Saja Ini Ramadhan Terakhir*

Agustus 19, 2008

*) ditulis untuk Majalah PKPU

Oleh : Lufti Avianto

Lelaki senja itu duduk di bawah pohon bambu yang rindang. Kerut di wajah dan putih di rambutnya menandakan ia tak lagi muda. Kedua kakinya ia rapatkan ke dada, sambil mengawasi sekumpulan kambing yang tengah merumput di tengah lapang. Tak banyak yang tahu nama atau tempat tinggalnya. Orang-orang hanya tahu dirinya sebagai seorang penggembala, tak lebih. Kedua matanya menyipit saat angin lembut menyapu wajahnya sementara bibirnya tak henti menyebut asma Allah.

Di sebelahnya, lelaki pagi yang masih berkeringat duduk rebah meluruskan kakinya. Butir-butir peluh membasahi wajah dan kaos Dagadu Jogja-nya. Tampak dari kejauhan, dua lelaki yang begitu kontras usianya tengah melepas lelah di bawah rerimbunan.

”Sebentar lagi Ramadhan ya dik,” ucap penggembala tua mengawali pembicaraan.

”Iya,” jawab pemuda yang tengah beristirahat di sebelahnya. ”Bapak sudah siap?,”.

Alhamdulillah, bapak sudah siapkan semuanya, termasuk niat,” ujarnya sambil beringsut membetulkan duduknya.

”Niat? Maksudnya gimana pak?” lelaki muda itu menyelidik.

”Niat, kalau Ramadhan ini yang terakhir buat bapak. Biar ibadahnya bisa lebih baik,” ucapnya sambil tersenyum sehingga kerut di wajahnya kian kentara.

Pemuda itu tercekat. Tak mengira jawaban yang akan diterimanya sedemikian luhur dan indah. Ia diam sambil merenungi persiapan apa yang telah ia lakukan bagi tamu agung itu. Bulan yang akan menghampiri dirinya dan jutaan umat Islam di seluruh dunia.

”Andai saja kita tahu, Ramadhan kali ini adalah yang terakhir bagi kita, tentu kita tidak akan menyia-nyiakannya. Kalau kita menyikapi Ramadhan dengan sambutan yang biasa saja, mungkin kita menganggap Ramadhan berikutnya akan kita temui kembali. Padahal itu belum tentu terjadi,” ujar lelaki senja itu lembut.

Sambil membetulkan letak kopiahnya, lelaki senja itu bangkit. ”Sudah sore dik. Bapak duluan ya,” pamit lelaki 63 tahun itu. ”Jadi, anggap saja Ramadhan ini yang terakhir bagi kita,” ujarnya menutup pembicaraan.

Lelaki muda itu kaku terdiam seperti sepeda balap yang berada tepat di sisinya. Di kepalanya, berkecamuk pikiran yang dikatakan lelaki tua itu. Sebuah kalimat terngiang-ngiang dalam hatinya. ”Anggap saja Ramadhan ini yang terakhir bagi kita, tentu kita tidak akan menyia-nyiakannya,”.

****

Ya, anggapan Ramadhan terakhir adalah jawaban atas optimalisasi ibadah di dalam bulan mulia itu. Sebaliknya, menyikapi Ramadhan seolah-olah kita akan berjumpa lagi adalah sebuah virus berbahaya yang akan meruntuhkan bangunan keimanan itu. Lengkungan langit mulai kuning kemerahan. Sore ini tengah bersiap beranjak pergi. Adakah ramadhan kali ini lebih baik dari ramadhan yang lalu?

Inna sholaatii wanusukii wamahyayaa wamamaatii lillaahi robbil ’aalamiin

Wallaahu’alam bishshowwab.

Entry Filed under: Serpihan Hikmah. Tag: .

1 Comment Add your own

  • 1. pakarfisika  |  Agustus 25, 2008 at 9:11 AM

    marhaban yaa syahra ramadlan…semoga barokah Allah menyertai kita…amien…

    wassalaam,

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Lufti Avianto

"Ketika kerikil menyambut langkah, inilah seni hidup yang sebenarnya,"

Blog Stats

Human Calendar

Terpaporit

Paling Baru

Kalender Hijriyah

Link Islam

My Others Blog

Sohib

Usefull Link

Gudang Tulisan

Kategori