AMANAH
Januari 30, 2008
by : Lufti Avianto
Apa yang tergambar dalam benak seandainya anda dipromosikan naik jabatan di perusahaan tempat anda bekerja? Atau dalam kesempatan yang sama namun situasi yang berbeda kita diamanahkan menjabat posisi penting dalam sebuah organisasi? Apakah yang terbayang adalah kesenangan, kemewahan, kekuasaan, fasilitas yang akan diperoleh, atau kekayaan yang melimpah?
Naiknya jabatan kita di kantor atau amanah kita di organisasi sosial sekalipun adalah salah satu bentuk amanah yang Allah berikan kepada kita. Bahkan harta yang melimpah dan anak-anak yang kita miliki pun adalah amanah pula. Sebagaimana firman Allah dan sabda Rasulullah berikut :
“Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu juga akan diminta bertanggungjawab tentang apa yang kamu pimpin, ketua atau imam adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawabannya tentang apa yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin di dalam keluarganya, dan dia akan bertanggungjawab tentang apa yang dipimpin. Isteri juga dipimpin, dalam mengendalikan rumahtangga suaminya dan dia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, dan pembantu rumah tangga juga pemimpin dalam mengawasi harta benda majikannya dan dia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. (Hadits riwayat Bukhori).
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar (Al-Anfaal : 28).
Jadi, apapun nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita seperti harta, jabatan, keluarga, anak-anak bahkan anggota tubuh seperti mata, telinga, kedua kaki dan kedua tangan dan yang lainnya adalah amanah. Maka semuanya akan dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
PENGERTIAN AMANAH
Lalu apa yang dimaksud dengan amanah? Amanah berasal dari bahasa arab, dari akata ’amuuna’ – ’ya’munu’ – ’amanah’ yang bermakna ”yang harus ditepati” atau ”titipan yang harus ditunaikan”. Dalam kamus Mukhtar Shohah disebutkan sebagai seluruh perjanjian yang diebrikan kepada manusia dari kewajiban-kewajiban syari’i seperti ibadah dan titipan (anak, keluarga, harta adalah bagian dari amanah). Dari segi akhlak dan nilai, amanah berarti menghargai kepercayaan orang lain terhadap diri seseorang dengan melaksanakan tuntutan yang terdapat dalam kepercayaan itu. Atau dengan kata lain, amanah adalah tanggungjawab yang diterima seseorang yang kepadanya diberikan kepercayaan bahawa ia dapat melaksanakannya sebagaimana yang dituntut, tanpa mengabaikannya.
URGENSI AMANAH
Sedemikian pentingnya amanah dalam ajaran Islam, sehingga ia menjadi pemisah bagi orang yang beriman dan munafik serta menjadi salah satu indikator kesempurnaan iman seorang Muslim yang telah bersyahadat. Seperti sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (iaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya” (Al-Mu’minun (23):1-11).
Laa iimaana liman laa amaanata lah, wa la diina liman laa ‘ah dalah (tidak sempurna iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak sempurna agama seseorang yang tidak menunaikan janji). H.R Ahmad.
“Tiga perkara yang jika terdapat salah satu daripadanya, berarti terdapat tanda munafiq sekalipun ia berpuasa, mendirikan shalat, menunaikan haji, umrah dan mengakui dirinya seorang Muslam yaitu apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia memungkirinya dan apabila dberikan amana ia menggkhianatinya” (Riwayat Abu Al-Syeikh).
Dengan melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya, maka nyatalah wujud keimanan seorang Muslim yang senantiasa bergerak aktif di dalam dadanya. Karena pergerakan yang aktif itu, maka imannya menajdi produktif menghasilkan karya kebaikan dan amal sholeh. Baginya, amanah meski berat sekalipun adalah tanggung jawabnya tidak hanya kepada manusia tetapi juga kepada Allah SWT.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui. (Al-Anfaal : 27).
Dalam ajaran Islam, diatur pula mekanisme pembebanan amanah kepada seseorang. Bagi orang yang tak memiliki kapabilitas dalam bidang amanahnya maka tak pantaslah dibebankan kepadanya. Sebagaimana Abu Dzar Al-Ghifari yang dinilai lemah oleh Rasulullah untuk mengemban suatu amanah.
Jadi, dalam pembebanan amanah sebaiknya terlebih dahulu melihat kapasitas orang yang bersangkutan. Jangan sampai kita menentukan suatu amanah tidak melihat pada kapabiliats seseorang, melainkan dengan kecenderungan hatinya semata, maka Allah mengancam dengan siksaan yang pedih.
:“Barangsiapa menguasai suatu urusan kaum muslimin, lalu dia memberi kuasa kepada seseorang kerana cintanya, maka laknat Allah menimpa atasnya. Allah tidak menerima ganti dan tidak pula tebusan, sehingga dia dimasukkan ke dalam neraka jahannam “. (Riwayat Al-Hakim).
“Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Sahabat bertanya: “Bagaimana mensia-siakannya?” Rasulullah menjawab: “Apabila sesuatu jawatan diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (H.R Bukhari).
BENTUK-BENTUK AMANAH
1. Amanah terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya.
Amanah bentuk ini bermaksud menjalankan tanggungjawab kita sebagai hamba dan khalifah Allah SWT, sesuai dengan rahasia penciptaan dan fungsi hidup manusia. Ia merupakan amanah yang paling utama. Pelaksanaan tanggungjawab sebagai hamba merupakan pengukuhan hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah SWT). Dengan memelihara dan menghargai amanah Allah SWT dan Rasulullah s.a.w., seseorang dapat melahirkan suasana aman, tenteram dan penuh harmoni.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikulnya dan mereka khuatir akan mengkhianatinya dan dipikul amanah itu oleh manusia” (Al-Ahzab (33):72).
Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa Allah SWT telah berfirman : “Wahai Adam! Sesungguhnya Aku telah menawarkan `amanat’ itu kepada langit dan bumi, namun kesemuanya tidak sanggup menanggungnya. Apakah engkau sanggup menanggungnya dengan segala risikonya? Bertanya Adam: Dan apa yang akan aku dapat kiranya aku sanggup menanggungnya? Allah berfirman: Kiranya engkau sanggup menanggungnya dengan baik, nescaya engkau akan diberi pahala, dan kiranya engkau menyia-nyiakannya, nescaya engkau akan disiksa. Berkata Adam: Aku sanggup menanggungnya dengan segala risikonya. Maka tiadalah lama dia berada di syurga, melainkan sekadar antara shalat yang pertama dan shalat Ashar, maka dia pun telah dikeluarkan syaitan dari syurga itu” (Riwayat Abus-Syaikh).
2. Amanah Terhadap Diri Sendiri.
Manusia harus memegang amanah terhadap dirinya sendiri, seperti anggota-anggota jasadnya (mata, telinga, mulut, perut, tangan, kaki dan kemaluan) dan anggota-anggota bathinnya (aqal, hati dan nafsu) yang dikurniakan Allah SWT. Semuanya mesti berfungsi mengikut tuntutan Allah SWT dan sebagaimana dilaksanakan oleh Rasulullah s.a.w.
3. Amanah Terhadap Masyarakat.
Amanah terhadap masyarakat timbul kerana sifat masyarakat yang bergantungan antara satu sama lain (hablum minannaas). Orang kaya dan orang miskin, penjual dan pembeli, pemimpin dan pengikut, pegawai dan kakitangannya, pemerintah dan rakyat, dan sebagainya semuanya bergantung antara satu sama lain.
CONTOH PERBUATAN AMANAH
1. Menjaga titipan dan mengembalikannya.
Terdapat satu kisah yang telah diceritakan oleh Abdullah Ibnu Dinar ” pada suatu hari, saya berjalan bersama Khalifah Umar Al-Khatab di Makkah, waktu itu saya bertemu dengan seorang pengembala kambing yang sedang mengembala kambingnya. Kemudian Umar berkata kepada budak pengembala kambing itu : “Juallah kambing itu kepadaku” budak itu menjawab : “Kambing ini bukan kambingku, tetapi kepunyaan tuanku”. Kemudian Saidina Umar sekali lagi menawarnya : ” Bukankah engkau dapat mengatakan kepada tuan engkau, bahawa satu di antaranya telah dimakan serigala, dan pasti tuan engkau tidak akan mengetahuinya. “Tidak, saya tidak mau,” kata budak itu, “Sesunggguhnya Allah Mahamengetahui”. Kemudian setelah mendengar yang demikian, menangislah Umar dan berkata kepada pengiringnya supaya memanggil tuannya, Umar telah membeli budak itu lalu dibebaskan olehnya, dan berkata : “Sejak hari ini engkau bebas merdeka di dunia dan engkau akan lapang di akhirat”.
2. Tidak menyalahgunakan harta dan jabatan.
Baginda memadamkan lampu kepunyaan Kerajaan yang digunakan untuk kerja rasminya apabila puteranya masuk untuk berbincang tentang urusan keluarganya. Apabila Puteranya bertanya kenapa Baginda melakukan demikian, Baginda berkata begini : “…lampu yang sedang ayahanda gunakan untuk bekerja sebentar tadi adalah kepunyaan Kerajaan, minyak yang digunakan itu dibeli dengan uang Kerajaan, sedangkan perkara yang hendak kita bincangkan ini adalah urusan keluarg. Sekarang lampu yang baru kita nyalakan ini adalah kepunyaan keluarga kita, minyaknya pun kita beli dengan uang kita sendiri.
3. Melaksanakan kewajiban dan tidak berbuat curang.
Beliau enggan mematuhi suruhan ibunya agar mencampurkan susu yang akan dijualnya dengan air. Katanya Khalifah Umar bin Khattab melarang melakukan perbuatan demikian. Apabila ibunya berkata ramai orang telah melanggar larangan itu dan Khalifah Umar dan pembantunya tidak ketahui tentang perbuatannya, beliau berkata begini:
“Jika Umar tidak tahu, tetapi Tuhannya Umar pasti tahu. Demi Allah, saya bukanlah orang yang tergolong mentaatinya di hadapan ramai tetapi mendurhakainya di waktu sunyi”.
Entry Filed under: Materi Islam. Tag: pengertian amanah, urgensi amanah.
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
kayobi | Januari 18, 2009 at 2:19 PM
kk oprator tolong donk cantumin keuntungan ama kerugian dari amanah ^^v