Monthly Archives: November 2007
Lebih yang Tak Seharusnya
Pandanglah sesekali ke atas langit saat dirimu merasa hebat tiada batas. Merasa ’lebih’ dari sekedar biasanya. ’Lebih baik’, ’lebih hebat’, ’lebih cerdas’, atau ’lebih banyak amalnya’. Mungkin riya’ menyandera jiwa, atau takabbur menggemuruh mengancam jiwa, atau ujub yang tak bisa dibendung. Sehingga dengan lebih itu, kita merasa lebih mulia dari manusia lainnya.
Pandanglah langit sesekali pada merah atau hitamnya kelak. Langit selalu saja rendah hati. Dan langit selalu memberikan pelajaran. Ia tak pernah menampakkan kehebatannya. Apalagi menyombongkan ketinggiannya di luar perintahNya. Padahal langit sudah sedemikian tinggi. Begitu sejuk saat memandang langit pagi. Begitu biru dan putih memancarkan warna serasi dan mencerahkan mata. Dan langit senja, tak kalah harmoni dengan kilauan bintang gemintang dan bulam nan bercahaya. Semua begitu pas. Tak kurang apalagi berlebih. Mereka sinergi. Manusia begitu rendah menetap di dunia.
Namun sering merasa lebih tinggi dari sekedar langit milikNya. Bahkan dalam sebuah sujud kerendahan, kita dipayungi langit keagunganNya. Ada sebuah syair indah yang ditorehkan Ustadz Rahmat Abdullah, semoga Alloh mengasihi beliau :
Merendahlah, engkau kan sepertibintang gemintangberkilau dipandang orangdi atas riak air dan sang bintangpun jauh tinggi janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit padahal dirinya rendah hina.
Padahal, kerapkali kita berperilaku seperti asap. Meninggikan dan merasa diri begitu mulia. Tak ingin sedikitpun kemulian yang kita anggap ada itu sirna dari diri. Dengan ketinggian yang kita agungkan, sesungguhnya menyimpan kehinaan yang tercium di balik kerendahan terbangnya. Berharap begitu besar akan pujian di sekeliling kita terhadap semua yang kita lakukan, namun tak pernah di dapat. Semakin berharap, semakin pula bau asap yang menyesakkan dada itu tercium.
Namun amat berbeda dengan bintang gemintang yang begitu tinggi di sana. Bercahaya bertahtakan sinar mulia sebagai kekasihNya. Hati, terkadang tak pernah bernilai bila selalu bergantung pada sebuah ketinggian yang semu dan sementara. Padahal, ada sebuah atap langit milikNya tempat semua doa dan cita mengudara, dimana semua hati yang terpilih, mendekap ketinggian hakiki bersama kemuliaan akhlaq yang melahirkan kezuhudan dan keikhlasan yang luar biasa.
Membentuk Karakter Pemimpin
Menjadi pemimpin adalah impian setiap orang, bahkan menjadi pemimpin terkecil dalam rumah tangga juga impian. Kita semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kita pimpin.
Seorang pemimpin sejati, harus mampu meningkatkan kemampuan dirinya untuk memuliakan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menafkahkan lebih banyak harta dan segenap kemampuannya. Dia bekerja lebih keras dan berpikir lebih kuat, lebih lama, dan lebih mendalam dibanding orang yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya, pemimpin yang selalu ingin dilayani, selalu ingin mendapatkan dan mengambil sesuatu dari orang-orang yang dipimpinnya. Agar mampu menjadi pemimpin yang baik, khususnya pemimpin rumah tangga, secara singkat kami berikan tips kebiasaan pemimpin yang efektif:
Berpikir Win-Win Solution.
Pemimpin yang efektif akan selalu berpikir menang-menang untuk mendapatkan solusi yang terbaik. Tidak ada yang kalah atau menang, semuanya harus menang, semuanya harus maju, semuanya harus sukses, tanpa merendahkan orang lain. Proaktif.Pemimpin yang sejati akan selalu “menjemput bola” bukan sebaliknya hanya diam menunggu bola. Dirinya tidak menunggu perintah atau arahan dari pimpinan puncak, melainkan mencari-cari cara yang inovatif dan kreatifitas dalam memimpin.Dahulukan yang utama.Seorang pemimpin akan mengerjakan hal-hal sesuai skala prioritas. Hal utama yang paling mendesak, itulah yang didahulukan untuk diselesaikan. Bukan mengerjakan hal yang kurang mendesak dalam mengambil keputusan. Ini semua dilakukan untuk mengefisienkan tenaga, waktu dan pikiran, demi mencapai target yang diinginkan. Mengerti dulu, baru dimengerti
Keberadaan seorang pemimpin yang efektif harus bisa mengerti orang lain terlebih dahulu. Setelah ia memahami dan mengerti orang lain, dengan sendirinya orang akan memahami dirinya. Karena kalau terus menerus memaksakan ingin dimengerti akan merusak hubungan harmonis antara seorang pemimpin dan yang dipimpin.






